Thursday, February 24, 2011

FAtiMaH aZ-zAhRa..penghulu wanita syurga


Dia membesar dalam suasana kesusahan. Bondanya pergi ketika usianya terlalu muda dan masih memerlukan kasih sayang seorang ibu. Sejak itu, dialah yang mengambil alih tugas menguruskan rumahtangga seperti memasak, mencuci, mengemas rumah dan menguruskan keperluan ayahandanya.

Di sebalik kesibukan itu, dia juga adalah seorang yang paling kuat beribadah. Keletihan yang ditanggung akibat seharian bekerja menggantikan tugas ibunya yang telah pergi itu, tidak pula menghalang Sayidatina Fatimah daripada bermunajata dan beribadah kepada Allah SWT. Malam- malam yang dilalui, diisi dengan tahajud, zikir dan siangnya pula dengan sembahyang, puasa, membaca Al Quran dan lain-lain. Setiap hari, suara halusnya mengalunkan irama Al Quran.

Di waktu umurnya mencapai 18 tahun, dia dikahwinkan dengan pemuda yang sangat miskin hidupnya. Bahkan oleh kemiskinan itu, untuk membayar mas kahwin pun suaminya tidak mampu lalu dibantu oleh Rasulullah SAW. Setelah berkahwin kehidupannya berjalan dalam suasana yang amat sederhana, gigih dan penuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Digelar Singa Allah, suaminya Sayidina Ali merupakan orang kepercayaan Rasulullah SAW yang diamanahkan untuk berada di barisan hadapan dalam bala tentera Islam. Lalu, seringlah Sayidatina Fatimah ditinggalkan oleh suaminya yang pergi berperang untuk berbulan-bulan lamanya. Namun dia tetap redha dengan suaminya. Isteri mana yang tidak mengharapkan belaian mesra daripada seorang suami. Namun bagi Sayidatina Fatimah .ha, saat-saat berjauhan dengan suami adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah SWT untuk mencari kasih-Nya, melalui ibadah-ibadah yang dibangunkan.

Sepanjang pemergian Sayidina Ali itu, hanya anak-anak yang masih kecil menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya Hassan, Hussin, Muhsin, Zainab dan Umi Kalsum diusahakan sendiri. Untuk mendapatkan air, berjalanlah dia sejauh hampir dua batu dan mencedoknya dari perigi yang 40 hasta dalamnya, di tengah bahang mentari padang pasir yang terik. Kadangkala dia berlapar sepanjang hari. Sering pula dia berpuasa dan tubuhnya sangat kurus hingga menampakkan tulang di dadanya.

Pernah suatu hari, sedang dia tekun bekerja di sisi batu pengisar gandum, Rasulullah datang berkunjung ke rumahnya. Sayidatina Fatimah yang amat keletihan ketika itu lalu meceritakan keperitan hidupnya itu kepada Rasulullah SAW. Betapa dirinya teruk bekerja, mengisar tepung, mengangkat air, memasak serta melayan anak-anak. Dia berharap agar Rasulullah dapat menyampaikan kepada Sayidina Ali, kalau mungkin boleh disediakan untuknya seorang pembantu rumah. Rasulullah saw merasa belas terhadap penanggungan anakandanya itu. Namun baginda amat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya sewaktu di dunia untuk membeli kesenangan di akhirat. Mereka yang rela bersusah payah dengan ujian di dunia demi mengharapkan keredhaan-Nya, mereka inilah yang mendapat tempat di sisi-Nya.

Lalu dipujuknya Fatimah .ha sambil memberikan harapan dengan janji-janji Allah. Baginda mengajarkan zikir, tahmid dan takbir yang apabila diamalkan, segala penanggungan dan bebanan hidup akan terasa ringan. Ketaatannya kepada Sayidina Ali menyebabkan Allah SWT mengangkat darjatnya. Sayidatina Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusahkan suaminya.

Dalam pada itu, kemiskinan tidak menghilang Sayidatina Fatimah untuk selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelaparan. Memang cocok sekali pasangan Sayidina Ali ini kerana Sayidina Ali sendiri lantaran kemurahan hatinya sehingga digelar sebagai 'Bapa kepada janda dan anak yatim' di Madinah.

Namun, pernah suatu hari, Sayidina Fatimah telah menyebabkan Sayidina Ali tersentuh hati dengan kata-katanya. Menyedari kesilapannya, Sayidatina Fatimah segera meminta maaf berulang-ulang kali. Apabila dilihatnya air muka suaminya tidak juga berubah, lalu dengan berlari-lari anak dia mengelilingi Sayidina Ali. Tujuh puluh kali dia 'tawaf' sambil merayu-rayu memohon dimaafkan. Melihatkan aksi Sayidatina Fatimah itu, tersenyumlah Sayidina Ali lantas memaafkan isterinya itu.

"Wahai Fatimah, kalaulah dikala itu engkau mati sedang Ali tidak memaafkanmu, nescaya aku tidak akan menyembahyangkan jenazahmu," Rasulullah SAW memberi amaran kepada puterinya itu apabila perkara itu sampai ke pengetahuan baginda. Begitu sekali kedudukan seorang suami yang ditetapkan Allah SWT sebagai pemimpin bagi seorang isteri. Betapa seorang isteri itu perlu berhati-hati dan sangat berhalus di saat berdepan dengan suami. Apa yang dilakukan Sayidina Fatimah itu bukanlah disengajakan. Apatah lagi, bukan juga dia merungut-rungut, marah-marah, meninggi suara, bermasam muka, merajuk atau lain-lain keranah yang menyusahkan Sayidina Ali k.w. Pun Rasulullah SAW berkata begitu terhadapnya.

Semasa perang Uhud, Sayidatina Fatimah telah turut sama merawat luka Rasulullah. Dia juga turut bersama Rasulullah semasa peristiwa penawanan Kota Makkah dan ketika ayahandanya mengerjakan 'Haji Wida' pada akhir tahun 11 Hijrah. Dalam perjalanan haji terakhir ini Rasulullah SAW telah jatuh sakit. Sayidatina Fatimah tetap di sisi ayahandanya. Ketika itu Rasulullah membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah .ha yang membuatkannya menangis, kemudian Nabi SAW membisikkan sesuatu lagi yang membuatkannya tersenyum.

Dia menangis kerana ayahandanya telah membisikkan kepadanya berita kematian baginda. Namun, sewaktu ayahandanya menyatakan bahawa dialah orang pertama yang akan berkumpul dengan baginda di alam baqa', gembiralah hatinya. Sayidatina Fatimah meninggal dunia enam bulan setelah kewafatan Nabi SAW, dalam usia 28 tahun dan dimakamkan di Perkuburan Baqi', Madinah.

Begitu sekali wanita yang utama, agung dan namanya harum tercatat dalam al-Quran, disusah-susahkan hidupnya oleh Allah SWT. Sengaja dibuat begitu oleh Allah kerana Dia tahu bahawa dengan kesusahan itu, hamba-Nya akan lebih hampir kepada-Nya. Begitulah juga dengan kehidupan wanita-wanita agung yang lain. Mereka tidak sempat berlaku sombong serta membangga diri atau bersenang-senang. Sebaliknya, dengan kesusahan-kesusahan itulah mereka dididik oleh Allah untuk sentiasa merasa sabar, redha, takut dengan dosa, tawadhuk (merendah diri), tawakkal dan lain-lain. Ujian-ujian itulah yang sangat mendidik mereka agar bertaqwa kepada Allah SWT. Justeru, wanita yang berjaya di dunia dan di akhirat adalah wanita yang hatinya dekat dengan Allah, merasa terhibur dalam melakukan ketaatan terhadap-Nya, dan amat bersungguh-sungguh menjauhi larangan-Nya, biarpun diri mereka menderita.


“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhan kamu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya; supaya Ia memberi kamu kesenangan hidup yang baik hingga ke suatu masa yang tertentu, dan Ia akan memberi kepada setiap orang yang ada kelebihan akan kelebihannya itu; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya aku bimbang kamu akan beroleh azab hari Kiamat yang besar”.

UwaiS AL-QarNi



Uwais AlQarni: Terkenal Di Langit Tak Terkenal di Bumi

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru,
rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan,
kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada
tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli
membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut
yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan,
tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan
tetapi sangat terkenal di langit.
Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti
ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru
dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata
Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah
dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan
karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang
dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan
menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai
macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya,
memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik,
karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya
seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari
mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari
mencuri”.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili
kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya
penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya
sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang
diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama
Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya
yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh
dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan
puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar
seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk
menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.
Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.
Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati
Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera
memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya
kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke
Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung.
Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan
cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru
datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan
kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.
Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk
bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang
cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu
yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera
dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini
akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu
hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada
beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan
musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk
bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya
dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah
beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat
membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya
selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.
Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi
hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi
menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa
terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan
Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di
rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.
Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa
menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan
kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju
Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.
Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir,
bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan
begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari,
semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras
baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni
di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu
rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah
r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi
yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di
rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang
perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada
di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan
Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan
masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas
pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah
mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa
dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada
sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya
menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan
perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang
kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa
Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni
langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda
Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun.
Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang
mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya
sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan
ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin
berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai
tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau
SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan
bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah
do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni
bumi”.
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga
kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan
Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda
Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera
mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak
itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu
menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya
yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan
kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan
mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju
kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman,
segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan
menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan
bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di
perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi
menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada,
Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya
Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais
menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu
berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar !
Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,
siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban
itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah,
yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais
kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan
mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah
sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat
itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan
mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:
“Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan
Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan
istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni
akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar.
Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang
negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera
saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya
hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya,
biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar
beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh
Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab
bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus
dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami
sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin
berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan
selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami
memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di
atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai
waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu
kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah,
tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang
terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan
dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah !
“katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal
dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal
satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami
lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam,
sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu
orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban
asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah
nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di
kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim
oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah
kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?”
tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat
di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam,
tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya
dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan
seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang
tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah
pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan
tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan
ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada
orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika
orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada
orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan
dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan
untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan,
“ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari
mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat
penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah
tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah
orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa
pemerintahan sayyidina Umar r.a.)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman.
Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya
orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan
pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan
orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan
ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap
melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais
al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang
tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba
dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan
penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah
kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya
mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk
mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman
mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi
tapi terkenal di langit.

winds whisper in melody


winds whisper in melody..

16.10.10..
saat pertama kali bertentang mata dengan dia..
hadoii,peluh satu badan,menggigil tangan2..
membe kat depan da bwat isyarat"tegur lah dia,tegurlah dia"
tp mulut nie masih terkunci..
ya ALLAH,isyarat apakah ini..
aku diam seribu bahasa..
dan dia mula tanyakan soalan..
aku menjawab sepatah demi sepatah
sedangkan semua orang tahu aku petah berbicara..
berbaju kemeja coklat,berkasut putih..
bau yg laen dr yg laen..
....................................................................



2.45pm..
16.10.10

da tiba masa utk naek bas balek ipoh..
usai solat jamak,aku tros menuju ke bas dgn rae dan min..
dia masih di situ,aku masih juga diam seribu..
hadoiii... kelu lidah..tetiba bf rae tegur..
"pegilah duduk sana,dia panggil"
aku dengan longlainya pegi..
bila melabuhkan diri di seat tempat menunggu bas sebelahnya..
ku rasakan suatu ketenaagan yg amat sgt..
jelas terpancar ciri lelaki soleh dalam dirinya..
kata-katanya disusun rapi..
"jadilah wanita solehah"
"jaga diri baek2"
"maaf x dapat beri apa2"
"jaga kesihatan"
diri ini mampu berkata "ya..ya.."

saat itu aku merasakan..
winds whisper in melody...

25.2.2011
4.44am
YA ALLAH...KENAPA AKU MASIH INGAT SEMUA PERISTIWA INI??

sedangkan lebih sbulan dia tinggalkan aku..
tanpa khabar berita..
no telefon ditukarnya..
kata2 akhirnya,"dah ye,lupakan *****"

dan lebih sebulan aku menjalani kehidupan dengan membekukan hati..
namun hari ini,mata sukar dipejam,fikiran mula membuka semula pintu2 kenangan..
air wudhuk ku ambil,al-mathurat kubaca utk mengubat hati...
ya ALLAH,ujian apakah ini??
mengapa sukar benar kenangannya melabuhkan tirai dari hidup aku..
supaya cintaku hanya padaMU..
dan cinta sejati ku pada sang suami yg tidakku ketahui gerangannya,
namun tertulis namanya di luh mahfuz..
aku ingin istiqamah..
istiqamah menjadi wanita solehah..
yang melabuhkan cinta hanya padamu..
mulut terkunci dari menyatakan apa yang tersirat di hati..
aku pasti rakan sebilikku memahami apa yang aku rasai..
namun disebabkan kemarahan mereka pada lelaki itu,
kerana meninggalkan aku begitu sahaja..
membuatkan aku tidak berani berbicara mengenai gelodak jiwa nie..
takut timbul isu,atau timbul pergaduhan..
aku tahu mereka sayangkan aku..
sedih melihat aku bergenang air mata menahan kerinduan..
yg mungkin menjadi zina hati buatku..
namun,sebenarnya aku sangat bersangka baik kepadanya..
mungkin saja dia tidak ikhlas mengenaliku,
atau mungkin saja dia da terpikat pada wanita lain,
namun bkn itu masalahnya..
aku bukan ingin memilikinya..
cuma kebaikan dia padaku membuatkan hati ini terikat utk menyenanginya dalam kehidupanku.
aku mahu melihat dia bahagia..
dan terus mendoakan kesejahteraannya


dan bermalam2 aku tak dapat menyenyakkan tidurku..
aku rasa berdosa membiarkan diri ini memikrkannya..
dia dah pergi dari hidupku..
alhamdullilah,ALLAH mungkin mempunyai rencana tersendiri..
namun mengapa dia masih dalam pemikranku..
ya ALLAH,Engkaulah yang berkuasa menjadikan..
dan Engkaulah yang berkuasa menghilangkan..
luputkan lah dia dari pemikiranku..
sejauh mata memandang..
jika pemikran ini berlandaskan nafsu semata..
hilangkanlah ya ALLAH..
jadikanlah cinta ini hanya pada yang berhak...
yang tertulis namanya di luh mahfuz untukku..

..........................................................................
sepanjang perkenalan aku dengannya..
aku tidak pernah mengeratkan hubungan kami berdua..
menghubunginya sepanjang waktu..
menarik perhatiannya ..
kerana dalam pada cinta yang tersemai,
tersemai juga perasaan takut padaNYA..
ya RABB..pemilik jiwaku..

"msg la dia..bila salu berhubungan baru akrab hubungan korunk"
"janganlah ego,dia taktaw 2 ko rindu kat dia"

masya ALLAH..
aku x sanggup ya ukhti..
aku takut pada ALLAH
biar lah ALLAH yang menyampaikan salam rinduku..
biarlah ALLAH sahaja yang memahami gelodak fitrah perasaan cinta aku padanya..
biarlah aku x melakukan apa2 utk membuatkan dia merasa aku sangat mengambil berat tentangnya..
kerna dia bukan yang sah untukku..
jika itu sebabnya dia pergi tinggalkan aku
aku tidak menyesali,bahkan redha dengan ketentuannya.
dia meminjamkan engkau sebentar dalam hidupku..
dan biarpun engkau pergi
ALLAH tetap ada denganku..


engkau tinggalkan aku..
aku redha
ia satu KETENTUAN dari ALLAH

"... Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." - [Surah Ath-Thalaq, 65: 3]

aku tidak mahu mempersoalkan ketentuanNYA..
dan atas sebab itu ya ALLAH..
moga ia pergi dari hidupku..




wahai lelaki.. engkau menakluki hatiku dengan agamamu.. kata2 mu membebaskan aku dari belenggu pemikiran jahil, aku hanya ingin berterima kasih padamu.. kerana akhirnya aku memahami erti kebahagiaan.. namun akan kupadamkan memori bersamamu.. kerana kau tak berhak berada di kotak memoriku.. namun kebaikanmu tersemat di sanubariku.. dan berharap agar ALLAH dapat membalas bagi pihak diriku terima kasih atas pertemuan aku dengannya ya ALLAH

semoga ALLAH mempertemukan aku dengan lelaki yang benar2 soleh..
yang membimbing aku kejalan yang benar..
yang mengubat luka2 di hatiku..
yang menenangkan hatiku bersamanya..
yang membahagiakan aku sepanjang masa..
yang tak akan menduakan aku selagi aku mampu berkhidmat untuknya..
yang bersamanya aku melahirkan zuriat2 soleh solehah..
dan dia menjadi bapa kepada para mujahid dan mujahidahku..
yang sama2 mendidik anak2 kami mencintai ALLAH
bersama2 membina BAITI JANNATI..
serba kesederhanaan,namun penuh kebahagiaan..keberkatan..
dan bersama2 dengannya aku melangkah ke pintu syurga..
dan menjadi ketua bidadari untuknya kelak..
amin..
temukan aku dengannya..
kerana cinta yang hakiki..
adalah cinta kepada suami keranaMU ya ALLAH..
YA ALLAH..
YA ALLAH..

Tuesday, February 15, 2011

kisah sebuah hati


alhamdullilah.. hari ini umat islam menyambut maulidur rasul..memperingati Rasullulah S.A.W yg telah lama meninggalkan kita..namun,perjuangan baginda tidak pernah terhenti,bahkan disambung oleh tabi' tabiin,para solehin dan generasi skang,para pendakwah yg menyampaikan dakwah secara lahiriah atau zahiriah,langsung atau tidak langsung..subhanaALLAH..masih ramai golongan2 yg asing dalam kelompok manusia..selawat dan salam ke atas junjungan kita Rasullulah S.A.W..malu btol dgn diri nie,ketika umat Islam berarak melaungkan selawat dalam aktiviti2 yg dijalankan badan2 dakwah,aku di rumah berehat akibat masalah kesihatan yg aku alami..terbaring di katil akibat kesan ubat diberikan..aku tertanya kepada diri sendiri,mengapa aku tidak mampu bangun dan mengikut aktviti..ya ALLAH malunya aku..mudahnya aku menyerah kalah..

***********************************************************************************

dalam kesihatan yg tdak menentu ..

teringat aku kepada seorang insan...

yang pernah menjengah pintu hatiku..

namun,ALLAH hanya meminjamkan dia sementara kepadaku..

teringat semasa dia menceritakan kepadaku betapa dia ingin mencontohi Rasullulah S.A.W..

saat aku mentertawakannya kerana terlalu lembut..
lembut dalam bicara,
suka pda bunga2,
malu lebih dari kaum hawa,
manjanya pada bonda tercinta..

tetiba tersentak aku dengan kata-katanya..

kelembutan Rasullulah S.A.W menjadi pegangannya..

kasihnya pada kanak2..hormatnya pada golongan wanita..

malunya melebihi kaum wanita

tertunduk malu aku mendengar penjelasannya itu..

ya Rasullulah, sesungguhnya jika ada lelaki mencontohimu ya nabi..

maka eloklah akhlaknya,indahnya perilakunya..

sungguh aku mencintai lelaki itu kerana agamanya,

kerana dia juga merindui insan yg aku rindui..

tertambat betapa dia ingin menjadikn aku org istimewa dalam hidupnya

betapa dia mengharap aku mencontohi Siti Aishah R.A..

betapa isteri Rasullulah itu menjaga auratnya

hinggakan kasut dimasukkan ke rumah utk mengelakkan org mengetahui saiz kakinya..

mulianya sifat wanita solehah itu..

dia mengenalkan aku erti 'wanita solehah'

yg selami ini aku abaikan..

pengetahuan agama aku ini aku biarkan berkubur amalan..

ya ALLAH

betapa aku menghargai kehadirannya dalam hidupku..

betapa pilunya aku ketika aku menyarungkan stokin di kakiku,

betapa pilunya ketika aku menyarungkan tudung labuh menutupi dada..

betapa syukurnya ketika melilau mencari pakaian yg longgar..

ya ALLAH

betapa hibanya aku apabila menghadapmu..

memahami betapa bersyukrnya aku dgn nikmat kurnianmu..

wahai sang lelaki,

besar dugaanmu dalam hidup..

membuat aku tersedar besarnya nikmat ALLAH padaku..
besarnya kasih sayangNYA padaku..
betapa Dia ada di sisiku tatkala senang atau susah..

ya ALLAH,

betapa aku tersentak dengan kasih sayang aku kepada kedua ibu bapaku..

tatkala dia menceritakan betapa kasihnya dia pada ibu tercinta,

betapa dia bermanja dengan ibunya..

terpikir sejenak,adakah aku mengasihi sang ibu seperti itu??

adakah aku hormatkan bapa sebagaimana Fatimah R.A kesayangan Rasullulah..

menangis ibuku..

apabila aku memohon keampunan atas kekhilafan ku selama ini..

terima kasih wahai teman..

namun..

kini kau tinggalkan aku..

ketika temanmu ini berjuang utk berubah,kau pergi tanpa khabar berita..
hilang jejak begitu sahaja..

begitunya kau mahu kulupakanmu..

hilang semua janji mahu menemani aku sbg teman seperjuangan..

mencari keredhaan ILLAHI

aku terpinga..

tanpa aku sedari air mata menitis..

hati gelisah...pilu...jiwa meronta

benarkan aku mendengar tazkirahmu wahai teman..

namun tiada khabar berita..

aku teruji iman..kesabaran teruji...ya ALLAH..ya ALLAH...

"eleh,kau berubah sebab dia kan!!! x lama tuhhh"

kata2 rakan menjengah fikiranku..terasa syaitan mentertawakanku..

bdan terasa lemah,fikiran melayang,air mata mengalir x berhenti..

namun biarpun dia pergi,kata2nya menjengah

ALLAH sentiasa di sisimu..
aku kuatkan hati,ya!! bencinya aku kembali ke kehidupan lama seperti bencinya mualaf kembali ke zaman jahiliah..

ALLAH ada di sisi..
jika kita lepaskan benda yang baik,ALLAH akan gantikan dengan yg lebih baik..bersabarlah wahai insan..

ALLAH lebih mencintaimu..
mgkn ALLAH ada rencana yg lebih baik kita apabila dia mengundur diri..

indahnya agamaMu..

namun,mengapa sang hati masih berdegil tidak mahu lupakannya..

kata2 nasihatnya selalu menjengah minda..

biarpun seribu org yg hadir,hatiku x pernah berubah..

baiknya akhlaknya menghias mindaku..

rontaan hatiku utk berjumpa ibu kesayangannya..

mengapa ya ALLAH dia x luput dari pemikiranku..

namun subhanaALLAH,kini aku lebih tenang..

para akhawat yg sentiasa menceriakan hatiku..ukhuwah fillah kami menyembunyikan kesedihanku..

wahai teman...

jika kau membaca coretan ini..

dengarlah..

kau sentiasa dalam doaku..

aku harapkan kau temukan kebahagiaan dalam hidupmu..

dan aku mohon diusirkan gangguan itu dari hidupmu..

semoga kau menemui wanita yg engkau cari dalam hidupmu..

mungkin aku x selayaknya buatmu..

ya ALLAH..pilunya mengenangkan penderitaanmu..

betapanya aku sudi mengharungi bersamamu semua keperitan itu,

namun mana mungkin kau mempercayai kata2 gadis ini..

terima kasih ya ALLAH kerana memberi peluang aku mengenalinya..

walaupun seketika...

jgn engkau tinggalkan solat malam..

jgn engkau biarkan ada manusia menjadi contohmu melainkan Rasullulah S.A.W

jadilah engkau lelaki soleh.

pelihara engkau dari maksiat

semoga engkau dirahmati dunia akhirat.

biarkan mata ini menangis..

kerana kesedihan ini bakal terusir..

sehinggakan ALLAH menakdirkan ada org lain menjemputku...

sebagai bidadari dalam hidupnya..



Monday, February 14, 2011

mari mengenali Rasullulah S.A.W






















"Adalah junjungan Rasullulah S.A.W itu putih,bercampuran atau meminum merah.Dan adalah ianya bersangatan hitam mata"(RIWAYAT AL-BAIHAQI,DARIPADA ALI)


**********************************************************************************

"Adalah junjungan kita ShallaLAhu'alaihi wassalam itu terjarang sedikit dua gigi yang dirusuk ,yang mana apabila ia berkata-kata ianya,nampaklah sebagai nur memancar dari celah gigi."
(RIWAYAT AT TARMIDZI,DARIPADA IBNU ABBAS')

***********************************************************************************

"Adalah junjungan kita Shallahu'alaihi wassalam itu besar kepalanya,besar janggutnya.(RIWAYAT AL-BAIHAQI)

***********************************************************************************

"Adalah percakapannya Shallalahu' Alaihi wassalam itu besar kepalanya,besar janggutnya."(RIWAYAT AL-BAIHAQI)

***********************************************************************************

"Adalah percakapannya Shallallahu'Alaihi wasallam itu cakapan yang cukup terang satu persatu,senang memahaminya oleh tiap2 pendengar."

************************************************************************************

"Adalah sekasih-kasihnya warna kepadanya Shallalahu' alaihi wassalam itu hijau.(RIWAYAT ABU NU'AIM,DARIPADA ANAS)


************************************************************************************

Adalah yang sekasih-kasihnya bunga kepadanya Shallalahu' alaihi wassalam itu bunga inai."(RIWAYAT ATH THABRANI)

************************************************************************************

Adalah junjungan kita Shallalahu'alaihi wassalam itu seringan-ringan manusia sembahyang pada menyempurnakan segala rukun-rukun dan segala sunat-sunatnya.(RIWAYAT MUSLIM,DARIPADA ANAS)

************************************************************************************

"Adalah junjungan kita Shallahu' alaihi wassalam ini apabila didatangi akannya makanan,makanlah ia dari barang yang mengiringinya (sebelah yg dekat dengannya).Dan apabila didatang akannya buah tamarberkelilinglah tangannya yang maha mulia dari atas(buat mencari buah yang di tengah-tengah)"(RIWAYAT AL-KHATTIB,DARIPADA 'A'ISYAH)

************************************************************************************

Adalah Shallalahu 'alaihi wassalam itu apabila didatang akannya buah yang mula-mula masak (buah sulung) diletaknya akan di atas dua matanya' kemudian di atas dua bibirnya serta bersabda"Ya Tuhanku ,sebagaimana Engkau telah perlihatkan kami diawalnya,maka hendaklah Engkau perlihatkan akhirnya."Setelah itu bernyanyilah kepada siapa kanak'kanak yang ada berdekatn dengannya."(RIWAYAT ATH.THABRANI,DARIPADA IBNU ABBAS)

************************************************************************************

Adalah Shallalahu'Alaihi wassalam itu apabila berbaring ia di tempat tidurnya letaklah ia akan tangannya di bawah pipinya ,kemudian baca ia."Dengan nama Engkau ,ya Tuhanku aku hidup.Dan dengan namaEngkau aku mati."Dan apabila jaga ia,baca ianya."Puji-puji itu bagi ALLAH yang menghidupkan kami kemudian dimatikannya,dan kepada NYa jualah bangkitan dari kubur."(RIWAYAT AL-BUKHARI)

***********************************************************************************

"Adalah Shallalahu'alaihi wassalam apabila datang akan dia perkara yang menyukakannya,tunduklah ia bersujud kerana syukur kepada ALLAH Azza Wa Jalla."(RIWAYAT IBNU MAJAH DARI ABU BAKRAH)

************************************************************************************

Adalah Shallalahu'Alaihi wassalam apabila berlaku dengannya tertawa(gelak )tertutuplah akan mulutnya dengan tangan(RIWAYAT AL-BUGHAWI)

sumber:Tajzibu Athraf Al-Hadith
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...